Jumat, 25 Mei 2018

TAK ADA 50% PEMILIH DALAM PEMILU BEM TAHUN INI


Sebanyak dua pasangan calon Presma bersaing dalam pemilu Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2018/2019 ini. Dua pasangan calon yang bersaing adalah Yusuf Fadkurrohman dan Siti Muyasaroh pada nomor urut 1 yang merupakan usungan dari Jurusan Tarbiah, kemudian Yulinar Puspitasari dan Andi Choirul Muttaqin pada nomor urut 2 yang membawa nama Jurusan Syariah.
Pelaksanaan pemilu tahun ini terbilang lebih awal dari tahun kemarin, karena jika terlalu akhir semester di khawatirkan berbenturan dengan kalender akademik kampus yaitu UAS. Dalam pemilu tahun ini juga terlaksana lebih matang dari tahun-tahun sebelumnya, terbukti dengan adanya pembentukan PPU (Panitia Pemilihan Umum) BEM STAINU Madiun yang di ketuai oleh Wahyu Sugeng W dari semester 4 yang juga menjadi anggota BEM sebelumnya, selain itu ada juga beberapa mahasiswa yang masuk dalam keanggotaan PPU.
Pemilihan terlaksana selama 4 hari mulai tanggal 22-25 Mei 2018. “Pelaksanaan dilakukan selama empat hari agar lebih mudah dalam pengumpulan surat suara, karena jam kuliah tiap prodi tidak sama dan akan sangat sulit untuk mengumpulkan semua prodi dalam sehari” tutur Wahyu.
Meskipun pelaksanaan pemilihan dilaksanakan 4 hari, namun ada yang sangat di sayangkan yaitu tidak bisa mendapatankan seluruh suara dari mahasiswa mulai dari semester 2 sampai 6. Menurut pengamatan dan hasil penghitungan yang kami lakukan (:red) hingga penghitungan surat suara kenmarin sore (25/5) pada pukul 14.10 WIB, hanya ada 46.3% suara yang memberikan hak pilih mereka, dan sebanyak 53.7 % golput.
Dalam pemilu tahun ini pasangan nomor urut 1 yaitu Yusuf Fadkurrohman dan Siti Muyasaroh mendapatankan 31.8% suara, sedangkan pasangan nomor urut 2 yaitu Yulinar Puspitasari dan Andi Choirul Muttaqin mendapatkan 6.3% suara. Kemudian sebanyak 8.2% suara tidak sah. Dan pada akhirnya di menangkan oleh pasangan nomor urut 1 Yusuf Fadkurrohman dan Siti Muyasaroh. /A6

Minggu, 21 Januari 2018

KOKOHKAN PERSATUAN DALAM KEBERAGAMAN: Melawan paham-paham pemecah belah NKRI




Dr. Wawan H. Purwanto saat menyampaikan Materi

Setelah  sukses dengan seminar tahun lalu yang bertema radikalisme (baca disini)  dengan di narasumberi oleh Ali Fauzi Manzi M.Pd.I yaitu adik dari Amrozi (teroris) sekaligus perakit bom dan juga mantan dari teroris, dengan tujuan seminar tersebut adalah untuk melawan gerakan-gerakan radikalisme yang berkembang juga menanamkan kecintaan para generasi pemuda khususnya pelajar kepada NKRI, maka Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAINU Madiun menindak lanjuti kegiatan tersebut dengan melaksanakan seminar yang kedua kalinya sebagai kelanjutan dari seminar tahun lalu.
Kemarin (20/01) BEM mengadakan seminar lanjutan yang bertempat di Gedung Diklat yaitu Seminar Nasional Kebangsaan dengan tema “Penguatan Nilai-nilai Kebangsaan“. Seminar ini bertujuan untuk mengokohkan persatuan di balik keberagaman guna memperkuat nasionalisme, selain itu juga untuk memperkuat kecintaan para generasi muda dalam mencintai NKRI yang pada akhir-akhir ini dirasa sudah mulai luntur, seperti yang di tuturkan oleh PK III H. Dimyati, M.Pd yang mewakili sambutan dari Ketua STAINU Madiun.
Seperti yang kita lihat saat ini bahwa mudahnya pengaksesan internet khususnya media social menjadi ladang empuk untuk menyebarkan HOAX atau berita-berita palsu, penyebaran ajaran radikal, penyebaran pemahaman dari beberapa aliran yang berusaha melemahkan NKRI yang tidak berediologi  Pancasila.
“Doktrin terorisme dan radikalisme masa kini memberdayakan internet atau media social sehingga diperlukan pengetahuan dan nalar yang kuat dalam berselancar di dunia maya” ujar Dr. Wawan H. Purwanto yang merupakan Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Teroris yang menjadi salah satu Narasumber dalam seminar ini.
Selain itu Letkol Inf. Rachman Fikri, S.Sos yang merupakan Komandan Kodim 0803 Madiun juga menyampaikan bahwa “perang saat ini tidak menggunakan perang konvensional, namun saat ini musuh menggunakan metode proxy war, yaitu sebuah metode perang tanpa menggunakan kekuatan fisik yang menggunakan taktik pecah belah atau adu domba terhadap target sasaran” jika kita sebagai pengguna media social tidak hati hati maka kita sebagai generasi muda khususnya para pelajar akan terjerumus dalam penghasutan dan pengadu dombaan tersebut, “jika bangsa yang menjadi target tersebut  sudah melemah maka perlahan pihak musuh tersebut akan mengambil alih” tambahnya.
Seminar ini di hadiri oleh 400 peserta lebih, mengundang pihak pemerintahan kota dan kabupaten dan juga perwakilan perguruan tinggi se-kota/Kabupaten madiun, Perwakilan SMK, SMK dan MAN se-Kota/Kabupaten Madiun, juda Perwakilan SMP/MTs se-Kota/Kabupaten Madiun.
Dengan terlaksananya seminar nasional kebangsaan ini diharapkan dapat menambah rasa kecintaan para generasi muda kepada NKRI, tidak mudah terprovokasi dalam bermedia social, juga membentengi diri dengan semangat nasionalisme dalam berideologi Pancasila dengan tetap menjunjung kebhinekaan. (01)

Minggu, 24 September 2017

Istighotsah di Taman Makam Pahlawan Madiun


Mahasiswa Baru Tahun Ajaran 2017/2018



MULAI PUISI CINTA TANAH AIR SAMPAI TEATRIKAL

"Penampilan salah satu kelompok pada malam pensi (pentas seni)"

Masa taarufan atau Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan oleh mahasiswa baru berlangsung pada tanggal 22-24 september 2017. Dengan peserta lebih dari 60 mahasiswa baru, mereka semua berkenalan dengan kampus, mahasiswa serta sesama mahasiswa baru
Berbeda dengan kampus-kampus pada umumnya yang mayoritas pelaksanaan OSPEK atau yang sekarang di kenal dengan PBAK, dimana pelaksanaannya identik dengan perpeloncoan yang dirasa sebagai ajaang balas dendam seperti masa orientasi mereka dulu, dengan mengerjai mahasiswa-mahasiswa baru. Namun di STAINU Madiun, pihak kampus dan terutama BEM berusaha menghilangkan adat perpeloncoan dan menggantinya dengan penyaluran kreatifitas mahasiswa baru.

Minggu, 10 September 2017

SELEKSI MAHASISWA PROGRAM BEASISWA MADRASAH DINIYAH

"Pengarahan dan persiapan ujian seleksi"

Salah satu upaya pemerintah provinsi Jawa Timur dalam pengembangan Madrasah Diniyah (Madin) adalah memberdayakan guru-guru yang mengabdi atau mengajar di setiap Madin yaitu dengan cara memberikan beasiswa. Dengan adanya program beasiswa untuk guru-guru Madin tersebut dimaksudkan untuk membekali para guru Madin dengan ilmu perkuliahan untuk mengelola dan mengembangkan Madrasah Diniyah yang mereka tempati.